Mendidik SQ anak


Mendidik

SQ anak

Menurut nabi Muhammad saw

Anak merupakan titipan atau amanah untuk kedua oarangtuanya.

Hati anak suci dan bersih dari segala bentuk ukiran.

Ia siap menerima setiap ukiran yang digoreskan dan

cenderung kepada arahan orangtuanya

Imam al-Ghazali

Kecerdasan spiritual adalah sebuah kecerdasan yang mampu mengantarkan manusia pada derajat yang sangat tinggi, derajat orang-orang yang berilmu dan beramal saleh. Oleh karena itu kecerdasan spiritual tidak cukup hanya dengan menunaikan shalat, rajin beribadah, rajin ke masjid, dan ritual ibadah-ibadah lainnya. Tetapi, kecerdasan spiritual itu juga kemampuan seseorang untuk memberi makna dalam kehidupan.

Selain itu, beberapa pakar menambahkan kecerdasan spiritual sebagai kemampuan untuk tetap bahagia dalam situasi apapun tanpa tergantung kepada situasinya. Mengutip Tony Buzan, pakar mengenai otak dari Amerika, menyebutkan bahwa:

“Ciri orang yang cerdas spiritual itu di antaranya adalah senang berbuat baik, senang menolong orang lain, telah menemukan tujuan hidupnya, jadi merasa memikul sebuah misi yang mulia kemudian merasa terhubung dengan sumber kekuatan di alam semesta yaitu Tuhan, dan punya sense of humor yang baik.”

Bagi seorang muslim, orang yang cerdas secara spiritual juga memiliki kecenderungan senang membantu orang lain, meninggalkan hal-hal yang akan menimbulkan kemurkaan Allah, mempunyai kemampuan empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain, dan bisa memilih kebahagiaan dalam hidupnya.

Dalam Al-Qur’an Surah Al Mu’minun ayat 1-11 disebutkan:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan)yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.”

Sejalan dengan ayat yang telah diterangkan di atas bahwa kecerdasan spiritual bisa tercipta dengan adanya pemaknaan terhadap nilai-nilai ke-Tuhanan dan nilai-nilai ke-Tuhanan tersebut bisa terbangun tidak hanya dengan pemaknaan hubungan vertikal dengan Tuhan tapi juga dengan adanya pemaknaan terhadap nilai-nilai hubungan horizontal terhadap sesama.

Sebagai orangtua, kita mempunyai peran yang sangat penting dalam kehidupan anak. Orangtua bertanggung jawab terhadap pemenuhan segala kebutuhan anak. Selain itu orangtua juga berperan sebagai guru pertama dan berperan penting dalam pembentukan sikap, kepercayaan, nilai, dan tingkah laku anak. Peran orangtua harus berubah dan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi sejalan dengan perkembangan anaknya.

Menjadikan anak sehat dan cerdas saja belum cukup untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang di era pembangunan dan globalisasi seperti saat ini. Seseorang dituntut untuk mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi setiap saat di sekitarnya. Agar mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan, seseorang haruslah memiliki perangkat perilaku dan kepribadian yang memungkinkan baginya untuk berproses sesuai dengan tuntutan lingkungan. Tentunya perangkat perilaku dan kepribadian itu harus dibentuk sejak awal kehidupannya.

Salah satu bekal pendidikan penting tersebut adalah bekal spiritual. Tugas orangtualah sebagai pendidik utama dan pertama yang harus menanamkan spiritualitas ini kepada anak. Untuk itu dalam buku ini penulis mencoba menjelaskan bagaimana kita orangtua membangun kecerdasan spiritual anak, agar cita-cata mendapatkan anak saleh dunia akhirat dapat tercapai.

MEMBANGUN

KECERDASAN

SPIRITUAL ANAK

  1. A.     Spiritualitas

Setiap orangtua tentu mengetahui, keluarga merupakan dunia pertama bagi seorang anak. Orangtua juga hendaknya mengetahui bahwa setiap rangsangan yang diterima anak sejak kecil, yang dilakukan secara sadar maupun tidak sengaja oleh orangtua, akan membawa pengaruh dan arah perkembangan anak di kemudian hari. Tentu saja tumbuh kembang anak menuju kedewasaan tidak hanya ditentukan oleh potensi anak, melainkan juga dipengaruhi oleh usaha yang dilakukan orangtua dalam membesarkan dan mendidik, serta faktor lingkungan yang Iebih luas di mana anak dibesarkan.

Pengajaran di sekolah dengan sistem pendidikan saat ini lebih menekankan pada pemikiran kritis yang hanya mengarah pada perkembangan kecerdasan intelektual melalui pengetahuan, kemampuan analisis, dan kemampuan sintetis, tetapi kurang memberikan perhatian pada kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang sangat dibutuhkan anak dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan. Karena itu, tidaklah cukup bila orangtua yang mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang sehat, cerdas, bermoral, berbudi pekerti luhur, ceria, mandiri, dan kreatif hanya menyerahkan pendidikan mereka pada pengajaran di sekolah saja.

Anak membutuhkan kesempatan yang lebih luas dari itu, seperti bersosialisasi dengan lingkungan yang lebih luas dan mendapat kegiatan untuk mengungkapkan fantasi serta potensi kreatifnya. Salah satu caranya adalah dengan membangun kecerdasan spiritual anak.

Belakangan ini semakin menjamur kelompok-kelompok studi atau sejenisnya yang menyatakan kelompoknya sebagai kelompok spiritual. Bahkan kata ‘spiritual’ kini sudah semakin terdengar klise dengan terjadinya pergeseran makna dalam penggunaannya. Sebagai istilah, ia telah semakin dikacaukan dengan berbagai bentuk kanuragan, “pengeleakan”, “pengiwe”, praktik pedukunan, praktik medium, cenayang “pepeluasan”, atau fenomena okultistik lainnya, bahkan sampai-sampai mendekati ketakhayulan dan kemusyrikan.

lronis memang, kata spiritual, kini semakin kehilangan spiritnya. Bukan hanya karena pergeseran-pergeseran pemaknaan, akan tetapi berbagai keterbatasan lahiriah dan naluriah, kecenderungan-kecenderungan, serta pengkondisi¬pengkondisi lainnya, telah menyulitkan kita untuk memahami spirit, sang jiwa, sang ruh, sang Maha Pencipta yang justru merupakan isu utama dunia spiritual.

Apa itu spiritualitas? Secara etimologi kata spiritualitas berasal dari “spirit” dan berasal dari kata Latin “spiritus”, yang di antaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, nafas hidup, nyawa hidup.” Dalam perkembangannya, kata spirit diartikan secara lebih luas lagi. Para filsuf, mengkonotasikan “spirit” dengan; yang me

  1. Kekuatan yang menganimasi dan member energy pada cosmos.
  2. Kesadaran yang brkaitan dengan kemampuan, keinginan, dan intelegensi
  3. 3.       Makhluk immaterial.
  4. 4.       Wujud ideal akal pikiran (intelektualitas, rasionalitas, moralitas, kesucian, atau keilahian).

Dilihat dari bentuknya, menurut para ahli, spirit dibagi menjadi tiga tipe: spirit subjektif, sepirit obyektif, dan sepirit absolut. Sepirit subjektif berkaitan kesadaran, pikran, memori, dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya. Spirit obyektif berkaitan dengan konsep fudimental kebenaran (right, recht), baik dalam pengertian legal maupun moral. Sementara sepirit absolute yang dipandang sebagai tingkat tertinggi sepirit adalah sebagai bagian dari nilai seni, agama, dan filsafat.

Secar  psikologik, sepirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu mahluk yang besifat nir-bendawi (immeterial being). Spirit juga berarti makhluk adikodrati yang nir-bendawi. Karena itu dari perspektif psikologik, spiritualitas, juga dikaitkan dengan berbgai ralitas alam pkiran dan perasan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless dan spceless”. Termasuk jenis spirtualitas adalah tuhan, jin, setan, hantu, roh-halus, nilai-moral,nilai-estetik, dan sebagainya. Spiritualitas agama (religious spirituality, religious spiritulness) berkenan dengan kualitas mental(kesadaran), perasaan, morakitas, dan nilai-nilai luhur lainya yang brsumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama bersifat ilahi, bukan bersifat humanistic lantaran bersal dari tuhan.

  1. B.     Kecerdasan (Intelligence)

Kecerdasan merupakan salah satu anugerah besar dari Allah Swt. dan menjadikannya sebagai salah satu kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, manusia dapat terus-menerus mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya yang semakin kompleks, melalui proses berpikir dan belajar secara terus-menerus.

Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya hewan pun diberikan kecerdasan namun dalam kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu, untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih banyak dilakukan secara instingtif (naluriah). Berdasarkan temuan dalam bidang antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hidup makhluk yang dinamakan dinosaurus. Hewan yang secara fisik jauh lebih besar dan kuat dibandingkan dengan manusia. Saat ini mereka telah punah dan kita hanya dapat mengenali mereka dari fosil-fosilnya yang disimpan di museum-museum tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun tidak langsung, kepunahan mereka salah satunya disebabkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yang dimiliki. Dalam hal ini, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah Swt., meski secara fisik tidak begitu besar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga saat ini manusia ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan dan peradaban hidupnya.

Lantas, apa sesungguhnya kecerdasan itu? Sebenarnya hingga saat ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan sebagai kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa menurut teori lama, kecerdasan meliputi tiga pengertian, yaitu:

  1. Kemampuan untuk belajar,
  2. Keseluruhan pengetahuan yang diperoleh, dan
  3. Kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi baru atau lingkungan pada umumnya.

Pada awalnya, kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yang berhubungan dengan aspek kognitif atau biasa disebut Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan oleh Charles Spearman (1904) dengan teori “Two Factor”-nya, atau Thurstone (1938) dengan teori “Primary Mental Abilities“. Dari kajian ini, dihasilkan pengelompokan kecerdasan manusia yang dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age), merentang mulai dari kemampuan dengan kategori Idiot sampai dengan Genius.

Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman dari Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yang dikembangkan oleh Binet dengan mempertimbangkan norma-norma populasi sehingga selanjutnya dikenal sebagai tes Stanford-Binet.

Pendapat lain mengatakan kecerdasan (intelligence) adalah hal-hal yang menunjukkan kemampuan untuk menerima, memahami dan menggunakan simbol-simbol sehingga mampu menyelesaikan masalah-masalah yang abstrak, misalnya kecerdasan verbal, kecerdasan spasial, kecerdasan sosial, dan banyak lagi. Kecerdasan verbal menunjukkan kemampuan untuk mengerti dan menggunakan kata-kata. Kecerdasan spasial adalah kemampuan mengerti dan menggunakan obyek dalam ruang, sementara kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk mengerti dan menggunakan informasi sosial.

Kecerdasan (intelligence) secara umum dipahami pada dua tingkat, yakni:

  1. Kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran.
  2. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.

Jadi dalam bahasa yang sederhana dapat dipahami bahwa kecerdasan adalah pemandu bagi kita untuk mencapai sasaran-sasaran kita secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya, orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas.

Tingkat kecerdasan (intelligence) bawaan ditentukan baik oleh bakat bawaan yaitu berdasarkan gen yang diturunkan dari orangtuanya maupun oleh faktor lingkungan, ini termasuk semua pengalaman dan pendidikan yang pernah diperoleh seseorang, terutama tahun-tahun pertama dari kehidupan yang mempunyai dampak kuat terhadap kecerdasan seseorang.

Secara umum intelegensi dapat dirumuskan sebagai berikut.

  1. Kemampuan untuk berpikir abstrak.
  2. Kemampuan menangkap hubungan-hubungan dan untuk belajar.
  3.  Kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi baru.

Ketiga rumusan ini menunjukkan aspek yang berbeda dari intelegensi, namun ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Keberhasilan dalam menyesuaikan diri seseorang tergantung dari kemampuannya untuk berpikir dan belajar. Sejauh mana seseorang dapat belajar dari pengalaman-pengalamannya akan menentukan penyesuaian dirinya. Ungkapan-ungkapan pikiran, cara berbicara, cara mengajukan pertanyaan, kemampuan memecahkan masalah, dan lain sebagainya dapat mencerminkan kecerdasan. Akan tetapi, diperlukan waktu lama untuk dapat menyimpulkan kecerdasan seseorang berdasarkan pengamatan perilakunya, dan cara demikian belum tentu tepat pula.

Meningkatkan kecerdasan dapat dilakukan melalui proses pendidikan secara menyeluruh, termasuk bagi mereka yang memiliki kelainan fisik atau mental serta mereka yang mengalami kekurangan beruntungan di bidang sosial atau ekonomi. Kecerdasan bermakna luas. Robert J. Sternberg (1981), seorang ahli psikologi, mengartikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk:

  1. belajar, menyesuaikan diri terhadap lingkungan,
  2. mengadaptasikan diri terhadap situasi baru, dan
  3. memanfaatkan pengalaman.

Agaknya sulit untuk membuat suatu definisi kecerdasan yang dapat mewadahi semua sudut pandang dan semua kepentingan. Dalam konteks pembelajaran, pemahaman atas kecerdasan yang dimiliki oleh setiap pembelajar sangat diperlukan untuk mengatasi berbagai masalah pembelajaran seperti apa yang perlu dipelajari dan bagaimana cara mempelajarinya.

  1. C.      Apa saja Jenis-jenis Kecerdasan

Lebih lanjut hadir teori baru tentang Multiple Intelligence yang menyatakan bahwa setiap anak memiliki beberapa potensi kecerdasan. Kegiatan pendidikan anak usia dini hendaknya memperhatikan kecerdasan atau potensi dalam diri anak tersebut ketika anak sedang belajar tentang dunianya. Setiap kecerdasan dapat dirangsang dengan cara yang berbeda.

Gardner menggunakan kata kecerdasan (intelligence) sebagai pengganti kata bakat. Ada sembilan kecerdasan yang diidentifikasi oleh Gardner yang disebut dengan kecerdasan majemuk (multiple intelligences), yaitu:

  1. 1.       Kecerdasan Metematis (Logical Mathematical Intelligence).

Kecerdasan ini merupakan suatu kemampuan untuk mendeteksi pola, berpikir deduktif, dan berpikir logis. Kemampuan ini sering diasosiasikan dengan berpikir secara ilmiah dan matematis.

Kecerdasan logis-matematis terlihat dari ketertarikan anak mengolah hal-hal yang berhubungan dengan matematika dan peristiwa ilmiah. Bedanya dengan kecerdasan lain, kecerdasan ini mempunyai suatu komponen khas, yakni sebagai kepekaan dan kemampuan untuk membedakan pola logika atau numerik, dan kemampuan menangani rangkaian penalaran yang panjang. Ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan ini adalah ketika anak berusia 2-4 tahun senang sekali menghitung benda¬benda di sekelilingnya. Bagi anak tersebut, lingkungan bisa dijadikan sebagai sarana untuk belajar, misalnya dengan menghitung jumlah kuntum bunga di sebuah cabang pohon di depan rumah.

  1. Kecerdasan ruang (spatial intelegence)

Anak dengan kecerdasan  spatial atau cenderung berpikir secara visual, kaya dengan khayalan internal sehingga cenderung imajinatif dan kreatif. Mereka mampu memanpulasi dan menciptakan gambar didalam pikiran mereka. Cirri-cirinya sebagai berikut.

  • Sangat senang bermain dengan bentuk dan ruang (rancang bangun), seperti puzzle dan balok.
  • Hafal sekali jalan yang pernah dilewati. la akan protes kalau jalan yang dilewatinya berbeda. Tak jarang, ia memandu pengemudi untuk melalui jalan yang dikenalnya.
  • Tidak banyak bicara, melainkan lebih aktif mengerjakan hal-hal yang berkaitan dengan abstraksi ruang seperti mencoret-coret, mewarnai, bermain puzzle, menyusun balok, dan sebagainya. Kegiatan ini jauh lebih diminati anak dibandingkan dengan minat verbalnya.
  • Memiliki problem solving yang lebih baik dibandingkan anak lain karena dia bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya.
  • Senang mengukur-ukur mana yang lebih panjang dan pendek, besar dan kecil, atau jauh dan dekat dengan alat-alat sederhana yang ditemukannya di rumah atau dengan anggota tubuhnya sendiri seperti menjengkal atau melangkah.
  • Bisa menangkap perkiraan atau jarak. Jika berlari, ia bisa mengantisipasi diri dengan ruang hingga tak menabrak.
  • Memiliki perhatian yang tinggi terhadap detail, seperti gradasi atau ukuran yang sedikit berbeda, misal dua benda yang sama persis hanya beda sekian milimeter.
  • Pandai mempersepsi apa yang dia lihat.
  • Mudah membaca peta, grafik, dan diagram.
  • Suka seni; menggambar, melukis, dan memahat
  • Menyukai bacaan yang penuh gambar-gambar ber-warna.
  • Senang merekam peristiwa/kejadian dengan video kamera.

Cara membangkitkan kecerdasan ini:

  • gunakan gambar dalam belajar.
  • buat coretan/simbol-simbol untuk melambangkan sesuatu.
  • ajarkan ia peta pikiran.

  1. 3.       Kecerdasan Musikal (Musical Intelligence).

Anak dengan kecerdasan musikal memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Mudah mengenali dan menyanyikan nada-nada.
  • Dapat mentransformasikan kata-kata menjadi lagu dan menciptakan berbagai permainan musik.
  • Peka terhadap ritme, ketukan, melodi, atau warna suara dalam sebuah komposisi musik.
  • Terlihat menikmati saat bermain musik, suka bersenandung atau bernyanyi
  • Sangat suka mendengarkan lagu dan musik, bahkan kesedihan akan berkurang di kala mendengarkan lagu atau musik.
  • Dapat menyebutkan dengan tepat kunci nada saat mendengarkan musik.
  • Memiliki suara yang merdu.
  • Mampu mengingat syair dengan baik.

  1. 4.       Kecerdasan Gerak (Godly-kinesthetic Intelligence).

Anak yang kecenderungan senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki kontrol pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak.

Karakteristik anak yang cerdas secara kinestetik dapat diamati dengan mudah. Anak sangat senang bergerak seperti berlari, berjalan, melompat, dan sebagainya di ruangan yang bebas. Meski terkadang jatuh, tapi keadaan ini masih normal bila anak berusia di bawah tiga tahun. Jangan batasi geraknya, karena memang fisiknya sedang berkembang. Namun orangtua harus menjaganya agar tidak terjatuh.

Selain itu anak yang cerdas kinestetik pada usia balita juga mampu melempar benda secara terarah kira-kira sejauh satu meter, senang memanjat benda yang tinggi, bermain di air, dan naik turun tangga. Anak mampu melompat dengan dua kaki seperti lompat kodok. Kemampuan ini memerlukan keseimbangan tubuh dan biasanya dikuasai anak usia 4-5 tahun. Ketika lagu diputar, tubuhnya bergerak harmonis mengikuti irama musik. Senang aktivitas pura-pura (role playing) misalnya, pura¬pura jadi kodok, bebek, menirukan orang menyetir mobil, atau memasak. Tidak menyukai duduk dalam waktu yang lama. Ciri lainnya, anak dapat melepaskan kaos, celana, dan kaos kaki sendiri. Juga bisa membangun jembatan dengan menggunakan balok-balok tanpa terjatuh. Aktivitas ini melibatkan keterampilan motorik halus, koordinasi visual motorik, dan keseimbangan. Ciri-cirinya sebagai berikut.

  • Terlihat tidak bisa diam, selalu ingin melakukan sesuatu, bergerak-gerak aktif ketika duduk. Deteksi ini bisa terlihat sejak bayi.
  • Senang kegiatan fisik, seperti melompat-lompat, olah raga atau permainan fisik, semisal kejar-kejaran, bersepeda, gulat-gulatan, dan sebagainya.
  • Anak perlu menyentuh objek yang sedang dipelajari. Misal, guru menerangkan dengan alat peraga. Nah, si body smart biasanya akan maju ke depan karena ingin menyentuh alat peraga tersebut.
  • Terampil mengerjakan kerajinan tangan seperti menjahit, membuat bentuk-bentuk dari lilin mainan, dan sebagainya.
  • Suka dan bisa menirukan perilaku/gerakan orang lain dengan balk, misalnya meskipun hanya sekali menyaksikan artis berlenggak-lenggok di layar kaca, anak sudah bisa menirukannya.
  • Suka bekerja dengan tanah liat, melukis dengan tangan, atau bekerja dengan menggunakan anggota tubuh lainnya.
  • Suka mengutak-atik benda yang menarik baginya. Umpama, membongkar pasang mainan. Orangtua yang kurang berpendidikan akan menganggap anak ini nakal karena suka merusak mainannya.
  • Senang berolah raga.
  • Resah jika tak melakukan apa-apa.
  • Menyukai pelajaran olah raga.
  • Belajar paling efektif dengan bergerak.

Cara membangkitkan kecerdasan ini:

  • ajak ia bermain peran.
  • gunakan gerak untuk belajar.
  • padukan gerak dengan semua mata pelajaran.

  1. 5.       Kecerdasan Alam (Naturalist Intelligence).

Anak dengan kecerdasan alam memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Memiliki ketertarikan yang besar terhadap alam sekitar. Mereka menyukai benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan peristiwa alam, misalnya terjadinya awan dan hujan, asal usul binatang, pertumbuhan tanaman, hingga tata surya.
  • Sangat tertarik dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Begitu juga dengan sistem pembelajaran di sekolah, dia lebih menyenangi aktivitas belajar yang dilakukan di luar ruangan atau kelas dengan mengobservasi alam.
  • Senang bermain di taman, kebun, serta akrab dengan berbagai binatang peliharaan seperti kucing, kelinci, anjing dan sebagainya.
  • Sering mempertanyakan berbagai gejala alam, entah itu mengenahi gempa, tsunami, dan sebagainya.
  • Menyukai aktivitas berkemah, hiking, memancing, dan kegiatan rekreasi lain yang berhubungan dengan alam, seperti pantai, laut, hutan, dan sebagainya.
  • Senang mengoleksi berbagai benda dari alam, seperti kerang-kerangan, batu-batuan, dan sebagainya.
  1. 6.       Kecerdasan Interpersonal (Interpersonal Intelligence).

Kemampuan untuk menjalin relasi sosial dengan orang lain. Anak dengan kecerdasan ini mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara pada saat berinteraksi, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain. Mereka memiliki empati, toleransi sehingga dapat merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku, dan harapan orang lain.

Kecerdasan interpersonal datang dari kemampuannya sendiri karena adanya kesadaran yang kuat. Ini dinamakan juga sebagai kecerdasan sosial. Adapun ciri-ciri selengkap¬nya sebagai berikut.

  • Memiliki empati. Anak memiliki kemampuan memahami peasaan orang lain. Dia begitu peka dengan situasi dan kondisi yang ada dan tahu tindakan dan sikap yang harus dilakukan pada masing-masing kondisi, misalnya saat temannya sedih karena kehilangan boneka, dia berusaha menghiburnya dengan meminjamkan boneka miliknya.
  • Bersikap asertif. Saat orang lain mencoba merampas haknya, dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia bisa mengemukakan kepentingan dan hak-haknya tanpa merugikan orang lain, I am OK you are OK. Anak tidak pasif dengan selalu mengalah, tapi dia juga menjauhkan sikap egois yang menempatkan semua keinginannya di tingkat tertinggi. Dia bisa bertindak di antara ke dua sifat tersebut. Saat mobil mainannya direbut, dia tidak diam atau menangis tetapi juga tidak langsung memukul si perebut, melainkan berkata, Jangan ambil mainanku sembarangan. Kamu boleh memainkannya setelah aku.”
  • Bisa bekerja sama. Anak bisa mengetahui dengan jelas mana yang menjadi tugasnya dan mana tugas orang lain. Dia juga tak punya masalah hubungan dengan masing-masing anggota kelompok. Tak jarang, kemampuannya bekerja sama membuat anak dipercaya memimpin kelompok tersebut. Jiwa kepemimpinannya memang terlihat jelas. lnisiatifnya mengambil keputusan sangatlah baik. Setelah memahami tugas yang diembannya, dia bisa mengatur dan mengendalikan teman-temannya untuk mencapai suatu tujuan. Seperti dalam permainan sepak bola, dia mampu mengatur para pemainnya agar memenangkan pertandingan. Anak dengan kecerdasan ini mampu menempatkan sesorang. dalam posisi yang tepat, misalnya saat diberi tugas mendirikan tenda di perkemahan, dia bisa mengatur siapa yang memasang tali, menancapkan pondasi, memasang tiang, dan sebagainya.
  • Mediator dalam konflik. Jiwa kepemimpinan yang dimiliki membuat anak lihai dalam menyelesaikan konflik antarteman. Terlebih jika anak mengenal dengan jelas kedua belah pihak yang bertentangan. Dengan kemampuan komunikasinya yang baik, dia bisa mengajak keduanya untuk menyelesaikan masalah dengan keputusan saling menguntungkan.
  • Gampang berteman. fleksibel, mudah bergaul, dan tidak pilih-pilih teman. Dia tidak alergi pada teman atau orang baru. Bahkan tak jarang, dia menganggap sosok yang baru dikenalnya tersebut sebagai teman lama.

  1. 7.       Kecerdasan Intrapersonal (Intrapersonal Intelligence).

Anak yang memiliki pemahaman dan kendali yang balk mengenai diri sendiri. Mereka tahu apa yang didapat dan tidak dapat dilakukannya dalam lingkaran sosial.

Kecerdasan intrapersonal merupakan kecerdasan yang dimiliki individu untuk mampu memahami dirinya. Secara lebih sempit dapat diartikan merupakan kemampuan anak untuk mengenal dan mengindentifikasi emosi, juga keinginannya. Selain itu anak juga mampu memikirkan tindakan yang sebaiknya dilakukan dan memotivasi dirinya sendiri. Meskipun anak dengan karakter ini dapat mengintropeksi diri serta memperbaiki kekurangannya. Namun kadarnya dapat berbeda-beda. Anak dengan cerdas diri dapat mengekspresikan perasaannya secara verbal juga melalui bahasa tubuh.

  1. 8.       Kecerdasan Spiritual (Spiritual Intelligence)

Kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) adalah kemampuan mengenal dan mencintai ciptaan Tuhan. Kemampuan ini dapat dirangsang melalui penanaman nilai¬nilai moral dan agama.

Ciri anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang menonjol adalah baik pada sesama dan rajin menjalankan ibadah agamanya. Biasanya ini terlihat saat dia berinteraksi dengan sesama dan lingkungannya, sikapnya ramah dan baik pada siapapun, tidak pernah membuka aib (kejelekan, kekurangan, dan kekhilafan) orang lain, dan mampu menangkap esensi dari agama yang dia anut.

  1. D.     Kecerdasan Spiritual

Sudah tertanam anggapan umum pada masyarakat bahwa anak yang cerdas adalah anak yang memiliki kemampuan nilai eksakta yang bagus, dan sebaliknya. Anak cerdas adalah anak yang bisa diterima di jurusan IPA bukan IPS atau Bahasa. Wajar jika sebagian besar orangtua cemas bila anaknya kurang pandai dalam matematika, fisika, atau pelajaran lainnya. Dan anak¬anak pun merasa malu dan rendah diri terhadap teman-teman dan lingkungannya ketika jurusan mereka bukan jurusan IPA tapi IPS atau Bahasa. Mereka merasa dinomor-duakan dalam berinteraksi baik oleh guru, teman, bahkan orangtuanya.

Padahal kecerdasan tidak hanya terbatas pada intelektual, dikenal juga kecerdasan emosional (emotional intelligence) dan kecerdasan spiritual (spiritual intelligence). Tidak ada jaminan orang yang cerdas secara intelektual akan juga cerdas secara emosional dan spiritual. ldealnya dalam diri seseorang, ketiga kecerdasan ini harus ada. Dengan kecerdasan intektual orang akan sukses dalam pendidikan, dengan kecerdasan emosional membuat orang lebih mudah mencapai sukses dalam hidup dan untuk menyempurnakannya dengan menemukan kebahagiaan dan makna dari kehidupan, diperlukan kecerdasan spiritual. Bahkan sebagian orang justru meyakini kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan yang paling utama dibandingkan dengan berbagai jenis kecerdasan yang lain.

Kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) diartikan juga oleh sebahagian orang sebagai kecerdasan manusia dalam memberi makna. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna. Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang religius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini tampak kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin. Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat religius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi.

MENGENALKAN

KECERDASAN SPIRITUAL

KEPADA ANAK

  1. A.     Mengenal Nilai-Nilai Spiritual

Prof. DR. KH. Jalaluddin Rakhmat mengutip lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons, dalam bukunya The Psychology of Ultimate concern’:

  1. Mampu untuk mentransendensikan yang fisik dan material.
  2. Mampu untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak.
  3. Mampu untuk menyakralkan pengalaman sehari-hari.
  4. Mampu untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah.
  5. Kemampuan untuk berbuat balk.

Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Dia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Dia merujuk pada warisan spiritual seperti teks-teks kitab suci untuk memberikan penafsiran pada situai yang dihadapinya,

  1. 1.     Ajarkan Anak Tentang Jiwa Sosial, Diwujudkan dalam Membayar Zakat.

Seperti keterangan di atas bahwa masa kecil adalah masa di mana para orangtua dengan mudah untuk membentuk kepribadian dan karakter anak. Termasuk untuk membentuk kepribadian dengan kematangan jiwa sosial yang tinggi. Semuanya tentu dengan arahan dan contoh dari kedua orangtua.

Orangtua bisa menjelaskan kepada anak “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah” bahwa memberi itu lebih balk dari pada menerima. Bagaimana orangtua memberikan contoh dengan beramal memberikan zakat atau sedekah kepada orang yang membutuhkan.

Allah memerintahkan, ‘Ambillah sedekah atau zakat dari harta-harta mereka, engkau membersihkan mereka dengan sedekah itu.” (QS At Taubah [9]: 104).

 

Banyak ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang zakat, karena kedudukan zakat dalam Islam sangat funda-mental. Begitu tegasnya perintah zakat, sehingga sering dibarengi dengan ancaman. Zakat bukan hanya kebaikan orang-orang kaya terhadap orang miskin, tapi zakat adalah hak tuhan dan orang-orang miskin yang terdapat dalam harta orang-orang kaya yang wajib dikeluarkan.

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba allah yang berzakat bersedekah, diisahkan dalam sebuah hadis yang driwyatkan oleh turmudzi dan ahmad sebagai berikut,

“tatkala allah swt. Menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadnya, ternyata bumipun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “ya rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-mu yang lebih kuat dari pada gunung?” allah menjawab, “ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batu pun bias menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh bulldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).

para malaikat pun kembali bertanya, “ya rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-mu yang lebih kuat dari besi?” allah yang maha suci menjawab, “ada yaitu api” (besi, bahkan baja bias menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar dibara api). Bertanya kembali para malaikat, “ya rabbi adakah sesuatu dalam penciptaanmu yang lebih kuat dari pada api?” allah yang maha agung menjawab, “ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air). “ya rabbi adakah adakah sesuatu dalam penciptaan-mu yang lebih kuat dari air?” kembali bertanya maliakat. Allah yang maha tinggi dan maa sempurna menjawab, “ada, yaitu angin” (air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang ahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau menombang ambing lapal dan perahu yang tengah berlyar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

 

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?” Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, ‘Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Hal-hal inilah yang harus dijelaskan kepada anak, sehingga karakter anak akan terbentuk dengan baik dan sesuai dengan fitrahnya bahwa ia adalah makhluk yang tunduk akan perintah Tuhannya.

  1. 1.      Pengenalan Tokoh Tokoh Teladan yang Agung dalam Islam.

Tokoh teladan kita yang utama yaitu Rasulullah Saw., kemudian para sahabat Nabi yang mulia Radhiallahu Anhum dan pengikut mereka dengan baik yang menjadi contoh terindah dalam segala aspek kehidupan. Maka dikenalkan kepada anak tentang mereka, diajarkan sejarah dan kisah mereka supaya meneladani perbuatan agung mereka dan mencontoh sifat baik mereka seperti keberanian, keprajuritan, kejujuran, kesabaran, kemuliaan, keteguhan pada kebenaran dan sifat-sifat lainnya.

Kisah atau kejadian yang diceritakan kepada anak hendaklah sesuai dengan tingkat pengertiannya, tidak membosankan, dan difokuskan pada penampilan serta penjelasan aspek-aspek yang baik saja sehingga mudah diterima oleh anak.

Misalnya, diceritakan kepada anak kisah Rasulullah bersama orang Yahudi yang menuntut kepada beliau agar membayar uang pinjamannya, sebagai contoh akhlak baik beliau:

Diriwayatkan bahwa ada seorang Yahudi yang meminjamkan uang kepada Rasulullah lalu hendak menagih utangnya sebelum habis masanya. Maka dicegatnya Rasulullah di tengah jalan kota Madinah seraya berkata, “Sungguh, kalian anak keturunan Abdul Muthalib adalah orang-orang yang suka menangguhkan bayar utang. Umar pun melihat kejadian itu dan amat marah, la  berkata, “Izinkanlah aku wahai Rasulullah, biar kupenggal lehernya” Tapi Nabi bersabda, “Aku dan kawanku sangat tidak  hal itu, wahai umar.  ia berperkara dengan baik dan suruhlah aku menyelesaikan dengan baik.”

Kemudian beliau berpaling kepada orang yahudi an berkata, “hai yahudi, piutangmu akan di bayr besok.”

Cotoh kisah  tentang keberanian dan ketbahan, diriwayatkan oleh Mu’adz bin Amr, “pada waktu perang badar kujadikan abu jahal sebagaia sasaranku. Begitu ada kesempatan, aku serang dia dan kupukul sehingga terpotong sparuh btus kakinya. Sementara, anaknya ikrimah bin abu jahalmemukulku pada lengan hingga erputus lenganku tetapi masi menempel dengan lengan kulit pada sisiku. Namun peperangan membuatku tak peduli dngannya, karena ketika itu berperang sepanjang hari sambil menyeret tanganku dibelakang. Setelah terasa sakit karenanya , ku letakkan kakiku diatasnya lalu kutarik hinnga putus.”

Sjarah umat islam penuh dengan tokoh-tokoh agung dan kisah-kisah menarik yang menunjukkan keutamaan dan makna yang indah.

  1. 2.      Didik  Anak  kecendrungan membuat pertanyaan refleksi mengapa

Misalnya, jika anak tidak menghabiskan makanannya, makaorangtua berkata.” Ayo, makananya dihabiskan ya, supaya apa yaa?” atau “ayo, cuci muka, tangan, kaki dulu sebelum tudur supaya apa?” ajak anak-anak melihat hubungan-hubungan antara sesuatu dengan lainnya. Misalnya, karena rajin sikat gigi maka giinya putih, tetapi temannya gigi hitam-hitam karena tidak rajin sikat gigi, dan sebagainya.

  1. 3.      Berikan Nilai atau Makna pada Hal-Hal yang Ada di Lingkungan.

Misalnya, mengajak anak menyiram tanaman, mengajarkan anak untuk menyayangi binatang, dan menanamkan jiwa sosial dengan menyayangi sesama, seperti memberi pakaian layak pakai ke panti asuhan, dan sebagainya.

  1. 4.      Kembangkan Sikap Bertanggung Jawab pada Anak.

Misalnya, jika anak menumpahkan minuman ke lantai, maka dia harus membersihkan sendiri (sebelumnya dicontohkan dan dijelaskan mengapa ia harus melakukan itu). Ajarkan sikap lebih sadar diri pada anak. misalnya, ajak anak melihat wajahnya dan mengatakan wajahnya lebih menyenangkan jika ia tak cemberut (minta anak meniru cemberut).

  1. 5.      Tanamkan Sikap Lebih Jujur Terhadap Diri dan Lebih Menunjukkan Keberanian.

Misal, berani mengakui kesalahan yang diperbuat.

  1. 6.      Pengajaran Etika Umum.

Seperti etika mengucapkan salam dan meminta izin, etika berpakaian, makan dan minum, etika berbicara dan bergaul dengan orang lain. Juga diajarkan bagaimana bergaul dengan kedua orangtua, sanak famili yang tua, kolega orangtua, guru-gurunya, kawan-kawannya dan teman sepermainannya.

Diajarkan pula mengatur kamarnya sendiri, menjaga kebersihan rumah, menyusun alat bermain, bagaimana bermain tanpa mengganggu orang lain, dan bagaimana bertingkah laku di masjid dan di sekolahan

Pengajaran berbagai hal di atas dan juga lainnya pertama-tama harus bersumber kepada sunnah Rasulullah, lalu perikehidupan para ulama salaf yang saleh, kemudian karya tulis para pakar dalam bidang pendidikan dan tata pergaulan.

  1. 7.       Mendidik Rasa Percaya Diri dan Tanggung Jawab Pada Anak.

Anak-anak adalah pemimpin hari esok. Karena itu, harus dipersiapkan dan dilatih mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan mereka lakukan.

Hal itu bisa direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya, dan diberikan kepada anak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan apa yang terbetik dalam pikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan urusannya sendiri, bahkan ditugasi dengan pekejaan rumah tangga yang sesuai untuknya. Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat; anak perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik. Pemberian tugas kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka terbiasa mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi mereka.

Termasuk pemberian tanggung jawab kepada anak, ia harus menanggung risiko perbuatan yang dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahwa ia bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Perhatikan kisah berikut yang menunjukkan rasa percaya diri. Diriwayatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Asakir, ketika Abdullah bin Az Zubair sedang bermain-main dengan anak¬anak sebayanya, Iewatlah khalifah Umar bin Khathab ra.

Maka Iarilah semua anak karena takut kepada beliau, kecuali Abdullah bin Az Zubair yang masih tinggal di tempat. Lalu Umar menghampirinya dan bertanya kepadanya: “Kenapa kamu tidak lari bersama teman-temanmu, nak?” Dengan berani dan tenang Abdullah menjawa, “Ya Amirul Mu’minin! Aku bukan seorang yang bersalah sehingga harus takut, dan jalan pun tidak sempit sehingga aku harus minggir.”

Seorang anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggung jawab yang besar. Sebagaimana putra-putra para sahabat, mereka berusaha sungguh-sungguh agar dapat ikut bersama para mujahidin Fisabilillah, sampai salah seorang di antara mereka ada yang menangis karena Rasulullah belum mengizinkannya ikut berperang bersama pasukan, tetapi karena simpati terhadapnya beliau pun mengizinkannya; dan akhimya ia termasuk salah satu syuhada dalam peperangan itu.

Rasulullah juga pernah mengangkat Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan yang di antara anggotanya terdapat Abu Bakar dan Umar, sekalipun masih muda belia tetapi ia orang yang tepat untuk jabatan itu. Lalu, di manakah anak-anak kita sekarang ini yang mampu menduduki puncak yang tinggi?

  1. Didiklah anak untuk mencari teman yang baik.

Lingkungan yang baik adalah Iingkungan yang mendukung pendidikan anak, maka dari itu carilah tempat tinggal yang kondusif dan ajarkan anak dalam memilih teman yang benar-benar dapat memotivasi mereka.

  1. Memperhatikan kegiatan anak.

“Jangan penah lepaskan pandangan Anda dari setiap tindak tanduk anak Anda.” Mendidik anak memang tidak hentinya, karakteristik anak yang tidak pernah diam selama ia terbangun adalah benar adanya, maka dari itu sebagi orangtua harus waspada. Pastikan setiap kegiatan anak adalah kegiatan yang menyenagkan hatinya akan tetapi kegiatan tersebut memiliki makna yang dapat membangun kepribadiaan anak menjadi lebih baik.

  1. Kejujuran, tidak munafik.

Kejujuran dan tidak munafik adalah gambaran penting dari bagusnya tingkat kecerdasan spiritual anak, ajarkan ia agar selalu mengatakan kejujuran atas setiap apa yang ia perbuat, kendatipun kekukuran itu pahit.

  1. Didiklah anak agar untuk rajin membaca bacaan yang bermutu.

Membaca adalah cara paling mudah untuk menambah wawasan kita, orang-orang pintar meyakini bahwa buku adalah jendela ilmu, dengan membaca buku informasi apa saja bisa didapat. Dengan banyaknya membaca tentu anak telah memperkaya dan menambah wawasan mereka terhadap segala sesuatu.

  1. Menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal.

Pendidikan yang baik buat anak tentu akan membuka cakrawala berpikir mereka menjadi lebih baik pula. Dan dengan pengetahuan terhadap mana yang baik dan mana yang merugikan dengan sendirinya anak akan menjauhkan diri dari segala sesuatu yang dapat merusak jiwa dan akal mereka. Tapi harus diingat bahwa semuanya akan tercapai tentu dengan dukungan orangtua dan lingkungan yang baik pula untuk anak.

  1. Rajin Berdoa.

Selain semakin mengasah fitrahnya untuk selalu dekat dengan Sang Pencipta, mengajarkan dan membiasakan anak berdoa yang bermakna akan membawa dampak positif bagi perkembangan spiritual dan mental anak. Tugas orangtualah untuk mengajarkan anak “berdoa” yang bermakna bukan sekadar “membaca doa.” Karena anak-anak pun akan bisa merasakan indah dan nikmatnya berdoa, lebih dari sekedar bacaan atau hafalan.

Jadi, orangtua tidak cukup hanya mengajarkan anak membaca doa, seperti doa sebelum dan sesudah makan, sebelum dan sesudah tidur dan doa¬doa lainnya, tetapi orangtua juga harus memberikan pemahaman tentang hakikat doa-doa tersebut. Ketika anak diajarkan membaca doa akan makan, maka orangtua harus mengiringnya dengan pemahaman agar anak mengerti bahwa makanan yang ia makan berasal dari Allah Swt. Begitu juga dengan doa yang lainnya. Anak-anak kita harus diajarkan melihat Allah sebagai sumber cinta dan kedamaian hidup. Jika orangtua berhasil membuat anak terbiasa berdoa tidak sekadar membaca doa, ini akan menimbulkan dampak positif bagi jiwa, mental, dan sikap positif anak.

Ketika kita mengajak anak-anak berdoa, itu merupakan ajakan untuk anak agar menggunakan sarana mengungkapkan perasaan, pemikiran, dan permohon mereka langsung kepada Allah yang Maha Melihat mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s