Jika bayi atau balita Anda terkena diare


Jika bayi atau balita Anda terkena diare, beberapa langkah awal yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Tingkatkan pemberian ASI. Sebab, ASI mengandung bahan yang mampu mengatasi mikroorganisme penyebab diare.
  2. Pada bayi yang telah diberi makanan selain ASI, ubah pola makannya dengan mengurangi makanan padat atau susu formula.
  3. Untuk balita yang sudah cukup besar, pertolongan pertama dapat dilakukan dengan pemberian oralit. Untuk itu sedia-kanlah selalu oralit di rumah Anda.
  4. Jika intensitas BAB pada anak terlalu tinggi dan mengkhawatirkan, segera bawa ke dokter untuk diberi penanganan dan obat-obatan tertentu.

Alergi kerap dijumpai pada bayi dan balita.

Alergi bersifat menurun. Anak yang ayah, ibu, kakek, atau neneknya penderita alergi, sangat berisiko men  derita alergi. Jika salah satu orangtuanya penderita alergi, peluang anak menderita alergi 25-30 persen. Jika kedua orangtua alergi, peluangnya lebih besar lagi, yakni 60-70 persen.

Alergi didefinisikan sebagai kumpulan gejala akibat reaksi dari sistem kekebalan tubuh yang berlebihan. Muncul oleh beberapa penyebab atau pencetus. Gejala alergi pada bayi dan balita sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa, diantaranya:

  1. Terjadinya gangguan pencernaan : Misalnya, sering muntah atau gumoh, kembung, cegukan, kentut, sering buang air besar, tidak BAB setiap hari, BAB berdarah, hernia umbilikalis (pusar menonjol), dan ada benjolan di selangkangan. Seluruh gangguan pencernaan ini dapat membuat bayi sulit makan sehingga berat badannya jadi berkurang.
  2. 2.       Terjadinya gangguan pernapasan: Misalnya, napas terasa sesak, napas berbunyi “krok-krok” yang kadang diikuti batuk pada malam dan pagi hari. Seringkali batuknya disertai dahak dalam waktu cukup lama. Benrsin-bersin, pilek, dan kepala sering miring ke salah satu sisi akibat hidung tersumbat. Saat menyusui ASI, bayi lebih sering tersedak. Bayi mengisap pada satu sisi payudara saja. Sebab, hidungnya tersumbat dan bernapas lewat mulut.
  3. 3.       Sensitivitas pada beberapa organ tubuh: Misalnya, sering muncul bintil kemerahan atau bisul, muncul kerak di kepala. Timbul bekas hitam di kulit seperti gigitan serangga. Gatal-gatal di mata, telinga, dan kepala, diikuti pembesaran kelenjar di belakang kepala. Selain itu, mata sering berair atau belekan, kotoran telinga menumpuk dan berbau, keringat berlebihan, lidah memutih dan bibir mengering atau berwarna.

Gejala-gejala tersebut dapat dicetushan oleh beberapa fah-tor, di antaranya:

  1. Faktor makanan. Beberapa makanan bagi beberapa orang dapat memicu alergi. Misalnya, ikan asin, udang, terasi, daging, dan lain-lain.
  2. Faktor nonmakanan. Misalnya, menghirup debu, serbuk sari bunga, kapuk, dan bulu binatang. Selain itu, dapat juga karena bersentuhan langsung dengan bahan-bahan kimia. Seperti sabun, deterjen, maupun barang-barang logam.
  3. Faktor serangga. Misalnya, kecoa, nyamuk, maupun jasad renik seperti tungau (kutu kecil) pada kasur.

Untuk mendeteksi alergi pada bayi dan balita, ada beberapa langkah yang akan dilakukan dokter. Pertama, melihat riwayat alergi pada keluarga, dan frekuensi perulangan penyakit itu. Setelah itu, dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang, seperti tes alergi kulit, foto rontgen, pemeriksaan laboratorium, dan lainnya.

Penanganan alergi pada bayi dan balita harus dilakukan dengan benar dan berkesinambungan. Hal yang terpenting adalah menghindar dari faktor-faktor pencetus alergi. Pemberian obat secara terus-menerus, bukanlah solusi. Perlu diketahui, secara teoritis, alergi tidak dapat dihilangkan. Frekuensi kambuhnya saja yang mampu dijarangkan atau dikurangi bobot keluhannya. Biasanya, dengan semakin besarnya anak, alergi terhadap makanan semakin berkurang, atau justru hilang sama sekali.

Penanganan yang tepat terhadap alergi sejak dini merupakan langkah bijak orangtua terhadap anaknya. Segeralah periksakan ke dokter, jika bayi atau balita Anda terindikasi alergi. Alergi yang dibiarkan terus-menerus, dapat mengganggu susunan saraf pusat atau otak anak. Gangguan otak itu dapat berwujud sakit kepala berulang, keterlambatan bicara, emosi yang meledak-ledak, agresif, gangguan konsentrasi dan koordinasi, hiperaktif, hingga autisme.

influenza

Influenza merupakan suatu infeksi saluran pernapasan bagian atas yang bersifat akut dan menular. Setiap orang dari beragam kelompok umur dapat terkena penyakit ini.

Anak-anak termasuk kelompok yang rawan terserang influenza. Dengan gejala umum berupa suara terdengar parau, demam, sakit kepala, badan lemas, nyeri pada otot-otot dan persendian, pilek, sakit tenggorokan, dan batuk kering. Gejala itu dapat bertahan 3-7 hari.

Pada gejala yang mengarah ke komplikasi, muncul keluhan sesak napas, batuk berat, demam menggigil, rasa lelah, keringat dingin, nafsu makan hilang, muntah, dan pusing. Pada penderita influenza yang juga mengidap penyakit kronis, akan menambah berat kondisi penyakit kronisnya itu. Misalnya, pada kasus penderita asma, paru-paru kronis, jantung, kencing manis, ginjal kronis, gangguan status imunitas (daya tahan) tubuh, kelainan darah, dan lain-lain.

Biang keladi penyakit ini adalah suatu kelompok virus orthomyxoviruses (virus flu). Terdapat lebih dari 200 jenis virus penyebab influenza ini. Dari sejumlah itu, terdapat tiga tipe virus, yakni tipe A, B, dan C. Virus tipe A sangat berbahaya, sebab dapat bersifat pandemik (tersebar luas di suatu wilayah), sangat menular, mampu tersebar ke penduduk secara local, nasiaonal, bahkan secara global. Tipe B

Hanya meyebabkan flu pada manusia. Sementara, tipe c, slan menyebabkan flu pada manusia, jga pada babi dan anjing

Sjak masuknya virus hingga muncul gejala influenza, perlu waktu rata-rata 2 hari. Penularan dapat terjadi pada 1-2 hari sebelum gejala penyakit datang atau Sejak masuknya virus hingga muncul 4-5 hari setelah gejala penyakit muncul.

Ditinjau dari sifat genetisnya, virus influenza merupakan virus yang tidak stabil dan di sinilah letak bahayanya. Sebab, mampu bermutasi akibat pertukaran gen. Dengan demikian, sering melahirkan jenis-jenis flu baru yang sulit diatasi. Gejalanya pun semakin parah, hingga mampu memangsa banyak korban.

Influenza dalam katagori ringan sebenarnya dapat reda dengan banyak istirahat, memperbanyak minum cairan, dan minum obat pereda demam. Meski demikian, sebaiknya penyakit ini tidak dianggap remeh. Sebab, terkadang influenza begitu sulit diusir dan kebal terhadap berbagai obat. Untuk itu, jika suhu badan anak Anda sudah meninggi, segeralah ke dokter. Antibiotik dapat diberikan hanya berdasarkan pemeriksaan dokter semata. Sementara, inhalasi (obat untuk dihirup agar dapat langsung masuk ke paru-paru) bukan untuk mengobati, tetapi hanya mengencerkan lendir agar napas longgar.

Influenza pada anak, jika tidak ditangani secara memadai, dikhawatirkan menimbulkan komplikasi seperti radang paru-paru (pneumonia), ensefalitis, bronkitis, infeksi sinus, dan infeksi telinga tengah. Pada beberapa kasus, virus influenza dapat mengakibatkan belpasi, yakni gejala mirip stroke dadakan pada anak. Jika pada stroke yang diserang adalah saraf pusat, sedang pada belpasi yang diserang saraf tepi. Belpasi ini ditandai dengan tidak dapat bergeraknya area bibir atau tidak berfungsinya indra perasa di daerah yang terkena belpasi.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah influenza pada anak adalah:

1.       Lakukan vaksinasi influenza setiap tahun, terlebih bagi anak beresiko tingg

2.       Teapkan gaya hidp sehat seperti sering mencuci tangan, makan makanan bergizi, istirahat yang cukup, an berolahraga.

3.       Batasi perjalanan yan jauh dan melelahkan bersama anak.

4.       Jahui anak dari orang yang diketahui menderita influenza. Jangan mendekat pada kerumuan orang ketika sedang musim flu.

 

Tips agar anak tiak takut dengan dokter

Banyak anak yang takut diajak ke dokter. Mereka  menangis meraung-raung, bahkan meronta-ronta ketika hendak dibawa, atau ketika telah tiba di ruangan praktik dokter. Kalau sudah begitu, dokter pun jadi sulit memeriksa penyakitnya. Secara psikologis, anak pun tidak maksimal memperoleh “efek sugesti” yang diperoleh lewat pemeriksaan dan pengobatan terhadapnya. Padahal, efek sugesti yang positif cukup berperan dalam proses penyembuhan suatu penyakit

.Mengapa anak takut dokter? Penyebabnya, kemungkinan akibat persepsi keliru tentang dokter. Dokter baginya laksana makhluk horor “tukang suntik” yang justru bikin sakit bagian tubuh yang disuntik. Persepsi itu kemungkinan tanpa sadar tertanam melalui orang-orang sekeliling anak itu sendiri. Entah orangtua, kakak, atau teman-teman yang lainnya. Sebaiknya, sedini mungkin berikan gambaran positif tentang citra profesi seorang dokter kepada anak.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa tips agar anak tidak takut pada dokter:

v  Jangan pernah menjadikan dokter sebagai objek menakut-nakuti anak. Sebab, hal ini akan menumbuhkan persepsi keliru anak tentang dokter. Akibatnya, ia takut ketika harus dibawa ke dokter. Saat anak tidak mau makan, jangan katakan, “Ayohabiskan makannya, sayang! Kalau tidak, ibu panggilkan dokter biar kamu disuntik.”

v  Sebaiknya, katakan terus terang tentang rencana kunjungan ke dokter pada hari sebelum kunjungan itu tiba. Jelaskan tentang tujuannya ke dokter dan apa saja yang mungkin akan dilakukan dokter padanya. Hal ini untuk menyiapkan mentalnya menghadapi apa yang akan dialaminya di ruang praktik dokter.

v  Jika anak memang perlu disuntik, jangan katakan bahwa disuntik itu tidak sakit. Sebab, anak merasa dibohongi. Sebaiknya, jujurlah pada anak bahwa disuntik itu agak sedikit sakit. Namun, sakitnya sebentar seperti digigit semut. Katakan pula bahwa disuntik itu mempercepat kesembuhan sakitnya.

v  Sambil diperiksa bagian tubuhnya, ajak anak pada hal-hal yang menyenangkan hatinya. Misalkan, dengan mengeluarkan mainan kesayangannya yang dibawa dari rumah. Bisa juga dengan bermain tebak¬tebakan anggota tubuh. Saat dokter memeriksa perut, dada, mulut, dan sebagainya, katakan, “Ayo tebak, bagian tubuhmu ini namanya apa?”

v  Jika diizinkan dokter, ajak anak mengenal lebih dekat peralatan yang digunakan dokter untuk memeriksanya. Misalnya, ia turut mendengarkan detak jantungnya sendiri melalui stetoskop.

v  Usai diperiksa, peluk hangat dirinya dan beri apresiasi padanya. Lalu, katakan “Anak pintar! Semoga kamu lekas sembuh ya sayang!”

 

Batuk

Pada dasarnya, batuk adalah suatu mekanisme refleks tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran napas. Gangguan itu dapat berupa dahak, reak, dan makanan atau benda tertentu yang tertelan (misalnya kacang, tulang ikan, dan sebagainya). Batuk dalam pengertian itu merupakan batuk yang “alamiah” dan bukan karena infeksi. Jadi, tidak perlu jadi momok yang harus dihindari. Sebab, melalui batuk, kita tetap dapat bernapas. Hal ini akibat lendir yang mengganggu saluran napas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita pun terhindar dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran napas.

Kita dapat bandingkan dengan para penderita stroke. Gangguan otak dari penderita stroke membuat refleks batuknya terganggu. Akibatnya, dahak menumpuk di paru-paru dan memicu penyakit pneumonia (penyakit paru-paru). Dampak lebih lanjutnya dapat mengakibatkan kematian bagi penderitanya.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah batuk karena infeksi maupun alergi. Bayi dan balita sangat rentan terhadap batuk karena infeksi virus dan alergi. Batuk karena virus dapat berlangsung hingga dua minggu. Bahkan, bisa lebih lama jika anak ternyata punya kecenderungan alergi. Apalagi, jika ada anggota keluarga di rumah yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi, biasanya selalu muncul, selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi ini dapat berupa alergi hidung (allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat tertentu yang ada di sekitar sinusitis (peradangan yang terjadi pada rongga sinus), refluks (kelainan saluran cerna), dan pneumonia.

Pada saat bayi atau balita Anda mengalami batuk, sebaiknya Anda tidak memberinya obat sembarangan. Segera bawa ke dokter untuk diberi penanganan semestinya. Selain itu, juga untuk mengetahui penyakit lain yang mungkin menyertai batuknya.

pilek

Pilek dalam bahasa kedokterannya adalah common colds. Penyebabnya, infeksi oleh virus. Ada ratusan virus yang mampu mengakibatkan pilek. Pilek lebih sering muncul saat musim penghujan. Anak-anak, yang sistem pertahanan tubuhnya lemah, biasanya jadi sasaran empuk virus pilek ini. Pilek pada anak dapat berlangsung 3-15 hari. Lamanya itu tergantung daya tahan tubuh anak yang bersangkutan dan penanganan yang diberikan orangtua menghadapi pilek anak.

Selain itu, ada atau tidaknya penderita flu di rumah juga dapat memengaruhi pilek yang diderita anak. Sakit pilek yang bercampur dengan sakit flu mengakibatkan anak mengalami demam & flu. Dengan begitu, pilek pada anak bisa jadi bukan sekadar common cold atau alergi biasa. Tetapi, bisa juga karena infeksi oleh virus influenza. Gejalanya adalah demam, nyeri dada, menggigil, lelah, batuk kering yang tidak produktif, sakit kepala, jarang disertai bersin, hidung tersumbat, dan sakit tenggorokan.

Banyak orang menganggap pilek dan flu adalah satu penyakit yang sama. Mereka akhirnya memperlakukan dan memberi obat yang sama pada kedua penyakit itu. Sebenarnya, antara pilek dan flu memiliki gejala dan penyebab yang berbeda-beda.

Seorang anak dapat mengalami 3-8 kali pilek ringan dalam setahun. Gejala pilek sendiri berupa hidung mampet, batuk produktif, bersin-bersin, dan sakit tenggorokan. Namun, jarang diikuti demam maupun sakit kepala.

Sebenarnya, tidak ada obat yang mampu menyembuhkan pilek, termasuk antibiotik dan suplemen vitamin C. Antibiotik hanya efektif jika diberikan pada infeksi karena bakteri. Sementara, pilekdisebabkan

Penyakit ini bisa muncul sepanjang tahun. Dapat menyerang

setiap anak pada usia berapa pun. Ditandai gejala hidung berair, terka¬dang tersumbat, lalu diikuti batuk dan demam. Penyakit ini berlang¬sung 2 hingga 3 hari, bahkan bisa lebih.

Ketika anak Anda sulit bernapas karena hidungnya tersumbat aki¬bat batuk-pilek ini, lakukan langkah-langkah berikut:

.4

l'”0?& Sedot ingusnya memakai alat penyedot khusus ingus atau nasal aspirator. Alat ini tersedia di apotek-apotek terdekat. Sebaik¬nya, bersihkan dulu ujung alat itu dengan lap yang diolesi alko-hol 70%. Saat menyedot, lakukanlah secara perlahan dan jangan masukkan alat itu terlalu dalam pada lubang hidungnya.

Bisa juga mengencerkan ingusnya memakai obat tetes larutan NaCI. Beri 1-2 tetes pada kedua lubang hidungnya. Bisa juga menggunakan larutan air garam. Larutan air garam dibuat de¬ngan cara melarutkan 1/4 sendok garam ke dalam 1/2 gelas air putih. Pemberian larutan NaCI maupun larutan air garam dilaku¬kan menggunakan pipet. Diharapkan ingus yang belum mengeras, maupun yang telah mengeras, dapat lebih mencair. Dengan begi¬tu, lebih mudah dikeluarkan. Air garam ini pun berkhasiat memu¬lihkan kembali kelembapan alami selaput bagian dalam hidung.

Setelah ingusnya encer, keluarkan lendirnya. Caranya, dengan menekan lembut hidungnya dari atas ke bawah menggunakan sapu tangan. Lalu, lap hingga bersih lendirnya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s