sayang untuk halimah


Hatiku gundah saat ini. Kau pasti tau penyebabnya, ya itu semua karena keluarga tuan kaya yang ibuku bilang adalah ayahku.

Kau tau apa yang mereka lakukan padaku saat aku datang utuk minta pengakuan tuan kaya? Aku dimaki habis-habisan, semua memandangku jijik, hina, tak tau diri, posisiku di sana seolah pengemis yang minta belas kasihan. ”Berani-beraninya kamu datang menginjakkan kaki di rumah ini, apapun yang kamu dan ibumu katakan, kami tidak akan pernah percaya. Dan harus kamu camkan baik-baik jangan pernah bermimpi untuk menjadi bagian dari keluarga kami” nyonya besar berapi-api menyaci maki diriku sambil menunjuk-nunjuk wajahku. Saat itu si tuan kaya sedang tidak ada di rumah.

Mungkin mereka takut kalau nantinya aku meminta harta warisan, atau berusha menguasai rumah itu. Aneh sekalikan pemikiran mereka!

Yah….mungkin yang harus ku lakukan hanyalah bersabar dan menunggu. sebaiknya aku pulang supaya ibuku tidak khawatir.

***

Untuk sampai di rumahku memang butuh pengorbanan. Selain tidak ada angkot, aspal di jalanan juga sudah habis terkikis waktu, yang ada tinggal batu-batu terjal yang bergelimpangan di jalan, di tambah lagi kamu harus menyusuri gang sempit di tepi sungai. Tapi anehnya kamu tak bosan-bosannya berkunjung ke rumahku ini.

” tunggu sebentar ya aku ambil minum dulu. Duduk yang manis dan jangan bandel ok hehe…”

”taraaaam…. es gula asam siap dinikmati. Kamu paling suka minum inikan?!”

Ibuku sedang tidak di rumah dari pagi. Dan aku senang ada teman ngobrol. Tapi apa kamu tidak takut berduaan denganku? kenapa mengerutkan dahi seperti itu? pertanyaannya aneh ya? Wajar kan aku menanyakannya. Karena aku bukan malaikat, siapa tau ada setan lewat waktu kamu lengah. Hahaha…. jangan diambil hati ya! tenang saja aku akan menyaipkan borgol untuk mejerat setan kalau dia lewat nanti.

Kamu sangat manis saat tersenyum, aku yakin 17 tahun yang lalu ibuku pasti punya senyum semanis itu. Saat ia masih muda, saat rumahnya masih bertetangga dengan si tuan kaya. Tapi sayang si tuan kaya telah merenggut senyum indah itu dari kecantikan ibuku. Yang tersisa hanya tawa hambar dan sorot mata yang selalu merasa berdosa saat dia memandangku. Betapa tidak, ketika aku lahir aku sudah diberi gelar anak haram oleh semua orang. Jangan pasang tampang gitu dong! Aku tidak suka dikasihani.

”assalamualaikum eh, ada tamu. Pantesen dari luar ibu dengar kamu ngomong sendiri. Ternyata ada tamu rupanya.”

”iya bu dia tadi mampir untuk mendengarkan curhat aku.”

”kalau begitu silahkan dilanjut ngobrolnya. Ibu ke belakang dulu ya!”

Kamu lihat sendiri kan? Ekspresinya hambar. Terlihat bahagia hanya di permukaan. Tapi di dasar hatinya, ia sangat takut. Maka dari itu ia menyuruh aku mendatangi si tuan kaya. Karena ibu sudah datang, ceritanya dilanjutkan lain waktu saja ya! aku takut ibu mendengar pembicaraan kita. Pasti kamu juga ingin ngobrol sama ibu seperti biasanya kan sekarang? Ya udah susul ibu ke belakang gih!

***

Mentari tersenyum cerah menyapa dunia. Tapi, senyum ibuku tetap belum juga terkembang pagi ini. Semenjak kamu sering berkunjug dan ngobrol bersama ibu, rasanya harapan untuk melihat senyum ibu bertambah 10%.

Aku selalu marah jika ibu menyebut-nyebut nama si tuan kaya. Seperti halnya tadi malam waktu dia bertanya apakah aku sudah mendatanginya.

”nak kamu sudah bertemu dengan ayahmu?” dia menghampiriku dan membelai rambutku. ”sudah lah bu, untuk apa kita mengharapkan dia? Tanpa dia pun, kita masih bisa hidup kan?” waktu aku berkata seperti itu dan menepis belaian sayangnya, dia menangis.

”tidak nak, kamu butuh pengakuan. Kamu adalah anaknya dan tak ada yang boleh menentangnya. Itu sudah suratan yang ditetapkan Allah untuknya. Sudah cukup semua penghinaan semua orang terhadap kita. Ibu lelah menanggung dosa sendirian. Ibu ingin kamu hidup layak dan bisa kuliah.” aku tidak sanggup melihat airmatanya. Terlalu banyak ia menyucurkan airmata untuk si tuan kaya dan aku. ”aku tidak membutuhkan kehidupan seperti itu bu. Aku hanya ingin seperti ini, bersama ibu. Biarkan saja mereka berbicara semau mereka toh kita sudah terbiasa kan?” aku memeluknya dengan penuh pengharapan. Ya, berharap dia tidak memaksaku lagi untuk menemui si tuan kaya.

”kau anak yang baik nak. Ayahmu orang baik.”

” lalu kenapa dia membuang ibu?”

”karena waktu itu kami belum menikah” katanya sambil meneropong sisi gelap dikehidupan masa lalunya. Ayahku meninggalkan ibu dan menikah dengan pilihan orang tuanya. Kata ibu mereka saling mencintai. Tapi cinta mereka terlalu rapuh hingga dengan mudahnya melakukan hal yang tidak sepantasnya, dan terjerembab ke lembah nista. Cinta membuatnya hampir gila, tapi dia masih bertahan untuk menyelamatkanku. Dan memutuskan untuk meninggalkan tempat kelahirannya sejauh yang ia bisa. Ia berjuang sendirian menghadapi masa kehamilan yang begitu sulit. Detik-detik kelahiran yang begitu menyakitkanpun tetap tidak ada yang mendampingi. Tapi orang-orang tetap tidak melihat perjuangan itu. mereka hanya bisa mencibir dan menghina. ” rasakan akibat dari kelakuan nakalmu itu dasar pelacur” luar biasa besar hukuman yang telah ibuku jalani. Begitu dalam rasa sakitnya. Tapi sampai hari ini disetiap sujud panjangnya ia selalu berdo’a ”Ya Allah jangan sampai gadis-gadis belia mengalami kesakitanku. Biarlah aku saja yang mengalaminya. Lindungilah mereka ya Allah. Jauhkan seten-setan penguasa cinta itu dari mereka. Lindungi pula anak laki-lakiku agar tidak diperdaya iblis-iblis pengumbar nafsu. Amin!” setelah kamu dengar ceritaku, kamu pasti paham kenapa aku melarang kamu pacaran. Bukan karena aku cemburu, tapi karena kamu satu-satunya sahabatku.

***

Rumah ku terlihat sepi. Apa mungkin ibu ku sedang keluar? Biasanya ia selalu di rumah kalau sore begini.

”Assalamualaikum”

”waalaikumsalam” jawab ibuku pelan suaranya tertahan entah kenapa.

”Dia anakku?” kata seorang pria yang sangat asing bagiku. Menanggapi pertanyaan itu ibuku mengangguk lemas. ”kemarilah nak. Aku ayahmu, kau anak laki-laki ayah yang tampan” biasanya aku selalu GeeR kalau di sebut tampan. Tapi tidak untuk kali ini. Ayah memelukku dibelakang punggung ayah aku melihat senyum indah ibu untuk pertama kalinya.”kamu akan ikut dengan ayah ya nak!” ibuku tersenyum lagi tapi senyum kali ini berbeda ada ketakutan di lubuk hatinya aku tahu itu. ”Tapi aku tidak ingin tinggal di rumah besar itu tanpa ibuku.” itu keputusanku. Karena aku takkan sanggup meninggalkan kedua HALIMAH ku (sahabatku dan ibuku).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s