yang terlupakan


Perkenalkan, namaku Vita. Aku duduk di kelas XI D SMU bakti luhur . Aku baru pindah dari salah satu SMA di Jakarta . Aku pindah karena orang tuaku akan bertugas di Bandung . Saat pindah ke SMA di Bandung ada suatu kenangan yang tak terlupakan bagiku. Kenangan yang tak terlupakan saat itu. Bertemu dengan seorang lelaki tampan yang bernama Satria. Ia kelas XI E. Pada suatu kesempatan kami bertemu. Dan…

Aku merasa jatuh cinta padanya . Aku rasa dia begitu sempurna dimataku . Ya.. memang dia banyak yang menyukai di sekolah terutama kelas X. Aku merasa tidak pantas untuknya. Entah mengapa, ada yang aneh dengan diriku. Aku merasa minder. Itu juga yang membuatku seakan menangis dalam hati. Aku tidak begitu cantik, menurutku. Tapi ia begitu tampan dan perfect.
Suatu hari saat aku selesai salat dhuha, aku bertemu dengannya. Sungguh, aku tidak tahu apa makna semua ini. Aku senang karena bertemu dengannya. Saat aku mengenakan sandalku, ada seorang temanku yang bernama Wawan datang untuk solat dhuha. “Aku boleh pinjam sandalmu, tidak?” aku hampir tertawa mendengarnya. “Boleh.” jawabku.
“Wah, ternyata seperti ini rasanya memakai sandal perempuan.” komentarnya. Tak lama, Satria datang dan ingin meminjam sandalku. “Aku boleh meminjam sandalmu, tidak?” aku kaget mendengarnya. Aku menganggukkan kepalaku. Ia memakainya dan berkata, “Duh, sandalmu tidak muat dikakiku”. “Mungkin kakimu lebih besar dariku” kataku. Ia hanya tertawa. Tak terasa mukaku memerah. Setelah kejadian itu, aku jadi bahan pembicaraan teman-temanku. Namun aku menyukainya karena mereka hanya ingin bercanda. “Wah, bakalan di museumin tuh sandal !” kata Tika. “Atau nggak malah dipake setiap hari buat nostalgia, mengenang yang tadi.” Monic menambahkan.
Hampir setiap hari setelah kejadian itu, aku selalu bertemu dengannya. “O.. ya. Berturut-turut, lho!” kata Tisa sambil melirikku. “Jangan-jangan mereka…” Monic ingin menebak sesuatu yang aku tidak tahu maksudnya. “Apa?” aku balik bertanya. “Jodoh?” Risa mengatakannya dengan setengah teriak. Aku terkejut. Ya… mungkin suatu saat nanti. Atau malah hanya impian yang tidak akan pernah terwujud. Aku harap ia tahu apa yang kurasa saat bertemu dengannya. Yang aku legakan, aku mempunyai sahabat-sahabat yang baik padaku. Mereka berusaha mendorongku untuk maju menghadapinya. Namun aku canggung.
Suatu hari, Satria sedang membeli makanan kecil di kantin. Aku kaget ia ada disana. Tisa, Monic, Tika dan Risa mendorong-dorongku sampai aku jatuh. Saat aku jatuh, ia menahanku supaya aku tidak jatuh. “Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanyanya padaku. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu. Hatiku sedang berbunga-bunga. “Ya, aku tidak apa-apa. Terima kasih.” jawabku dengan suara agak pelan karena nervous. Ia malaikat penolongku. Setelah itu ia langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Mungkin malu, atau agak canggung.
“Wow…!! Sungguh pemandangan yang indah, lho! Aku nggak nyangka si Satria nolongin kamu!” suara Monic agak kaget namun senang. “Bagaimana perasaanmu saat ini?” tanya Tika. “Ehem. Pasti di dalam hatinya ‘sedang berbunga-bunga’ ia, khan?” Tisa menjawabkan pertanyaan Tika. “Aku juga nggak nyangka kalau Satria akan menolongku. Dan perasaanku saat ini, benar yang dikatakan Tisa!” jawabku dengan agak menunduk karena malu.
Kejadian itu masih terus terbayang sampai aku tidur. ‘Besok apa lagi, ya..??!’ tanyaku dalam hati. Malam itu, aku bermimpi bertemu dengannya. Kami berbincang-bincang tanpa membincangkan kejadian siang itu. Ia pribadi yang hangat. Itu yang kusuka darinya.
Pagi harinya, tidak di sengaja saat aku sampai di pintu gerbang sekolah, aku bertemu dengannya. Ia tersenyum padaku. Aku membalasnya dengan senyuman juga. Aku jadi salting jika bertemu dengannya. Apa ia memimpikan hal yang sama denganku, ya.?? Saat istirahat, aku menceritakan mimpiku dan kejadian pagi tadi pada sahabat-sahabatku. Mereka mendukungku.
Besok adalah hari ulang tahunku. Aku tidak mengharap apa-apa dari siapapun. Aku hanya bersyukur pada Allah SWT karena aku telah diberi teman-teman yang baik, orang yang ku sayang juga baik padaku.
Istirahat kedua, sahabat-sahabatku pergi entah kemana. Aku hanya berdiam diri di dalam kelas dengan membaca novel. Tanpa sepengetahuanku, mereka merencanakan sesuatu. “Aku punya ide! Gimana kalau kita suruh Satria untuk memberikan kado pada Vita?” tanya Monic. “Ide yang bagus! Aku punya nomor handphone-nya Prima. Nanti, pulang sekolah aku akan menelponnya.” kata Risa. “Tapi, kita kasih hadiah apa pada Vita?” tanya Tika. ”Kita suruh Satria menghadiahi Vita sesuatu yang ia suka saja!” kata Tisa.
”Aku tahu! Vita kan suka makan es krim CORNETTO rasa strawberry. Jadi, itu saja, gimana?” Tika mengeluarkan pendapatnya. “Jangan! Kita suruh Satria menghadiahinya sesuatu yang dapat dia kenang hingga kemasa depan!” Monic menjelaskan. “Trus apa donk?” tanya Risa bingung. “Aku tahu! Dia kan suka baca novel tentang cinta. Kita juga sudah tahu berapa koleksi novel ‘cinta’nya di rumahnya, kan?? Jadi, kita suruh Satria memberikan novel itu saja! Gimana??” Tisa mengatakannya dengan mantap. “Setuju!”serentak yang lain.
Pulang sekolah, Risa mengambil handphone dan segera menelpon Satria, “Hallo? Ini siapa, ya?” tanya Satria. “Hallo. Ini Risa. Bisa bicara dengan Satria?”kata Risa. “Ya, ini Satria. Oh, Risa. Ada apa, Ris?” suara Satria lega. “Mmm… Sebenarnya, aku mau jujur sama kamu, tentang sahabatku. Ini menyangkut kamu juga.” Risa menjelaskan. “Apa’an, sih?! Jangan bikin penasaran! Cepetan jelasin!” paksa Satria. “Besok, sahabatku Vita ulang tahun.” Risa menjelaskan pelan-pelan. “Oh, Vita yang cantik itu?” jawab Satria senang. Risa kaget bukan main. “Apa kau menyukainya, Sat?? Ayo jujur! Kita kan sudah seperti saudara sendiri!” Risa mendesak karena penasarannya. “Ya…Gimana, ya??? Sebenarnya aku sudah menyukainya sejak lama. Tapi, aku takut ia akan menolakku.” Satria menjelaskannya dengan agak sedih.
“Oh, begitu. Aku ingin membantumu. Sebenarnya, ia juga menyukaimu! Sudah lama ia memendamnya. Ia berharap kau menyatakan cinta padanya. Dan besok adalah hari ulang tahunnya. Dia suka membaca novel ‘cinta’. Kau bisa memberikan itu padanya. Besok, jam empat sore aku akan mengajaknya ke taman kota. Pergilah kesana untuk mengucapkan ‘selamat ulang tahun’ padanya, sekaligus menyatakan cintamu padanya. Bagaimana?” Risa menjelaskan panjang lebar. “Baiklah, aku menyetujuinya.” jawab Satria singkat dengan perasaan senang.
Sorenya, Risa mengirim SMS kepadaku : “VIT, BESOK JAM EMPAT SORE PERGILAH KE TAMAN KOTA.” Lima menit kemudian aku membalas SMS Risa: “MEMANGNYA DA PA, SICH??!” aku penasaran. Tumben Risa mengajakku ke taman kota. Biasanya ke mall, ke rumah temen, atau lainnya. Risa tidak menjawab SMSku. Besok di sekolah akan kutanyakan padanya.
“Emang mau ada apa, sih? Pake acara ke taman kota segala??”tanyaku pada Risa. Risa, Monic, Tika dan Tisa hanya berpandangan. “Ada ajah..!!” jawab mereka singkat. Aku bingung. Aku ingin segera jam empat, supaya aku tahu yang mereka maksud.
Jam telah menunjukkan pukul empat tepat. Aku segera mandi dan berdandan dengan gayaku sendiri. Aku segera bergegas menuju ke taman kota. Disana, aku melihat ada seorang laki-laki yang kukenal. “Hai.” aku sapa dia. “Oh, hai!” suaranya tak asing lagi di telingaku. Dia berbalik. Benar dugaanku. Ia adalah Satria! “Sedang menunggu seseorang?”tanyaku agak nervous, sambil ikut duduk di sampingnya. “E… ya.” jawabnya singkat. Aku lihat ia membawa sebuah kado yang dibungkus rapi dengan kertas kado bergambar hati warna merah.
“Jujur, aku sedang menunggumu.” katanya yang membuatku kaget. “Hah…?! Aku?” tanyaku “Iya, kamu. Aku mau mengatakan sesuatu padamu. Sebelumnya, selamat ulang tahun, ya, Vita!” katanya sambil menyodorkan kado yang dibawanya. “Iya. Terima kasih.” aku menerimanya dengan hati yang senang. “O, ya. Mau mengatakan apa?” lanjutku. “Sebenarnya, aku sudah memendamnya lama. Saat ada orang yang memberitahuku sesuatu, aku sadar aku harus jujur padamu.” aku tidak dapat berpikir jauh saat itu. Aku sangat salting.
Satria menghadap kepadaku dan menyodorkanku setangkai mawar merah, sembari berkata, ”Maukah kau menjadi kekasihku?” kata-kata itu yang sangatku nantikan sejak lama. Saat itu, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tanpa pikir panjang, aku menjawab, “Ya, aku mau…” Tanpa kuduga, Risa, Monic, Tika dan Tisa muncul. “Sukses!” kata mereka. “Duh, senangnya cinta tidak bertepuk sebelah tangan!” lanjut mereka diikuti tawa. Aku dan Satria hanya berpandangan, karena malu.
^_^……^_^

Cerpen Yang Terlupakan ini Karya Monica Evi, Murid kelas IX SMP N 12 Semarang…

nah bagi pembaca yang punya cerpen yang ingin dipostkan seprti di atas krim saja ke email saya uyathesquid@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s