doa seorang penjaga makam


Cerpen Sujud Kabisat

Barangkali, di Negeri ini tidaklah ada sebuah kota yang lebih sempurna dibanding jakarta. Kota yang menawarkan sejuta harapan dan mimpi bagi orang-orang yang datang dan pergi. Tanpa basa-basi. Tanpa permisi.
Seperti…..
Oh…..
Nani…..
Gelap…..
Gelap…..?
Gelap…..!
Gelap…..?!
Sebentar, sayang.
Sebentar-sebentar. Tolong dikasih tahu posisi saya berada di mana sekarang?! Kenapa semuanya diam?! Kenapa semuanya tidak mau menjawab?! Kenapa semuanya berubah jadi gelap?!
Tolong…..
Please…..
Apakah ada orang di sini…..?!
Apakah agama kalian…..?!
Kenapa kalian membeda-bedakan orang satu dengan orang yang lain…..?!
Kenapa kalian diam…..?!
Kenapa kalian tidak mau menjawab…..?!
Kenapa kalian berubah jadi gelap…..?!
…………..
…………..
…………..
****Brodin tidur tertelungkup di semak rerumputan. Di bawah iklan raksasa bergambarkan peta kota Jakarta. Tubuhnya kejang-kejang. Bibirnya gemetar. Lidahnya menjulur keluar. Dari celah giginya bagian depan, terdengar suara sangat berisik menyerupai desisan ular kobra yang siap memangsa siapa saja yang mendekatinya. Dengan ketakutan, Brodin berteriak minta tolong.
Ya, hanya minta tolong.
”Tolang-tolong…..! Tolang-tolong…..! Dasar orang gila…..! Gelandangan…..!” sergah seorang Bapak, dengan usia sekitar enam puluh tahun, mengenakan dasi, berpakaian ala parlente berjalan melewati di samping Brodin. Kemudian Bapak itu menendang botol Aqua bekas di depannya hingga melayang tepat mengenai sasaran di kepala brodin. ”Brakk…..!”
”Jancok! Siapa yang barusan memukul kepalaku?!” batin Brodin seraya memegangi kepalanya yang benjol. Brodin menengok di sekelilingnya tidak menjumpai siapa-siapa kecuali hanya sebuah iklan raksasa bergambarkan peta kota Jakarta yang sudah lapuk di makan usia dan siap menimpanya kapan saja.
Dengan tubuh sempoyongan, Brodin mencoba berdiri. Melangkahkan kaki. Brodin mulai menyusuri kota Jakarta yang super kumuh, macet, bising, dan sama sekali tidak mencerminkan kesan ramah seperti halnya kota kecil di tempat kelahirannya, Madura.

Sebenarnya, tujuan Brodin merantau ke Jakarta bukanlah tanpa sebab. Brodin memendam cita-cita mulia ingin merubah nasib keluarganya. Dan Jakarta, adalah kota pertama yang ingin ditaklukannya. Kata banyak orang, di Jakarta kita bisa ketemu artis dan pejabat. Tidak hanya itu saja. Di Jakarta, kita bisa melihat gedung-gedung menjulang tinggi mencakar langit. Mono rel. Busway. Kereta listrik. Dan di Jakarta,  kita bisa mencari uang dengan mudah. Baik dengan cara halal maupun haram. Semua aktifitas bergerak dan tidak bergerak tersaji 24 jam. Non stop.
”Stop…..! Jangan bergerak…..!” Tiba-tiba datang seorang aparat mengenakan seragam menyeramkan menodongkan senapan ke arah Brodin.
”Saya bilang jangan bergerak. Jika bergerak, saya tembak…..!” Aparat itu mendekati Brodin sambil memborgol kedua tangannya.
”Waduh, bapak ini na gimana. Masak orang hidup disuruh tidak rak bergerak. Jika orang hidup tidak rak bergerak, namanya bukan orang dup hidup. Tapi orang ti mati tak iye,” bantah Brodin kepada Aparat itu dengan logat Madura yang terkesan polos.
”Sudah jangan banyak bicara. Saudara saya tangkap…..!” Aparat itu menyeret Brodin. Sesaat kemudian, sebuah sepatu PDH bersarang ke wajah Brodin, ”Brakk….!”
Brodin tersungkur ke aspal. Kepalanya benjol. Matanya lebam. Bibirnya berubah monyong mengelurkan darah. Sesaat kemudian, pandangan Brodin berkunang-kunang. Semuanya berubah jadi gelap.
Gelap…..
Gelap…..?
Gelap…..!
Gelap…..?!
…………..
…………..
…………..
****

”Saudara tahu, apa kesalahan saudara?!”

Di kantor polisi, seorang Aparat dengan wajah sadis, berkumis tebal, dengan perut sangat gendhut menginterogasi Brodin sembari menggeledah tas, dompet, dan seluruh pakaian hingga Brodin telanjang dada hanya mengenakan celana dalam.
”Lah, bapak ini na gimana. Saya ke jakarta cari ja kerja. Saya tidak lah bersalah tak iye,” jawab Brodin, masih menggunakan logat Madura yang kental dan polos.
”Saudara tidak punya KTP…..!”
”Ooo pe ke te pe. Bapak ini na gimana. Semua orang pasti tahu kalau saya berasal dari ra Madura tak iye.” Brodin membantah pertanyaan Aparat itu dengan sangat dingin. Sedikitpun tidak memperlihatkan ekspresi rasa bersalah.
”Saudara tahu gepeng…..!” Aparat itu terlihat kesal memelototi wajah Brodin. ”Saudara tahu gepeng, nggak…..!”
”Ha…. ha…. ha…. ha….” Brodin tertawa terpingkal-pingkal di depan Aparat itu. ”Bapak ini na gimana. Saya jelas tahu sama almarhum peng gepeng. Almarhum peng gepeng itu kan pelawak fovorit ga keluarga saya tak  iye.”
”Bukan gepeng itu yang saya maksud…..!” Aparat itu semakin kesal menjambak rambut Brodin. ”Gepeng itu singkatan dari gelandangan dan pengemis.”
”Waduh, bapak ini na gimana. Kan tadi saya sudah lang bilang. Kalau saya ke Jakarta ini cari ja kerja. Saya bukan dang gelandangan. Bukan juga mis pengemis tak iye.”
”Brengsek…..! Saudara itu sudah bersalah tidak punya KTP masih jawab tak iya-tak iye….! Tak iya-tak iye….! Saudara bisa berbahasa Indonesia dengan baik nggak sih….!”
”Bapak ini na gimana. Kan tadi saya sudah jawab soal pe ka te pe. Semua orang pasti tahu kalau saya berasal dari ra Madura. Semua orang pasti tahu kalau Madura itu bagian dari Negara sa Indonesia. Dan sekarang ini saya sedang pakai bahasa sa Indonesia tak iye.”
”Sudah saudara keluar sana…..! Bikin pusing…..! Dasar gelandangan bego…..! Gembhel…..!” Aparat itu sudah kehilangan kesabaran menyeret Brodin keluar kantor sambil melemparkan tas, dompet, dan pakaian ke wajah Brodin.
”Lah, bapak ini na gimana. Bapak yang go bego. Bapak yang sek brengsek. Saya ke Jakarta cari ja kerja. Saya bukan dang gelandangan. Bukan juga bel gembhel. Apalagi mis pengemis tak iye.” Brodin balik menggerutu dan marah-marah di depan Aparat itu sambil mengenakan pakaian.
“Dari tadi sedikit-sedikit bapak bilangnya ra saudara. Sedikit-sedikit bapak bilangnya ra saudara. Kalau kelakuannya sar kasar seperti ini, ras keras seperti ini, namanya bukan ra saudara. Tapi suh musuh tak iye.”
Brodin meninggalkan kantor polisi dengan tubuh sempoyongan. Entah sudah berapa hari Brodin belum makan. Tubuhnya terlihat kurus. Tak terurus. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya terbakar panas matahari sampai hitam. Lebam.  Brodin mulai berjalan kembali menyusuri kota Jakarta yang super kumuh, macet, dan bising. Kota yang menawarkan sejuta harapan dan mimpi bagi orang-orang yang datang dan pergi. Tanpa basa-basi. Tanpa permisi.
****

Permisi…..
Hallo…..
Kulo nuwun…..
Punten……
Excuse me…..
Sampurasun…..
Assalamualaikum…..
…………………………
…………………………
Berulang kali, Brodin mengucapkan kalimat itu di setiap waktu. Di setiap penjuru. Hampir setiap jalanan di Jakarta, sudah disisirnya. Dengan luka. Dengan mata berkaca-kaca, Brodin terus berjalan. Dengan tubuh remuk redam. Tanpa arah dan tujuan. Tanpa harapan. Tanpa jawaban.
Adakah yang mendengar jeritannya…..?!
Adakah yang menitah langkahnya…..?!
Adakah yang menyeka air matanya…..?!
Ada…..
Ada…..?
Ada…..!
Ada…..?!
Ada. Di sebuah tempat. Berkumpulnya sanak kerabat. Mencurahkan air mata. Menaburkan wangi bunga. Melantunkan ayat-ayat dan doa.
Di sini…..
Di sini…..?
Di sini…..!
Di sini…..?!
Di sini. Matahari terbagi menjadi dua sisi. Kanan dan kiri. Rembulan terbelah menjadi dua arah. Atas dan bawah. Siang dan malam sama saja. Tidak ada bedanya.
Gelap…..
Gelap…..?
Gelap…..!
Gelap…..?!
Gelap. Tidak ada bujur utara, selatan, timur, dan barat. Semuanya menghadap kiblat. Dengan khidmat.

Dengan khidmat. Brodin duduk di salah satu makam. Bersandarkan batu nisan. Beraromakan wangi kembang. Bau kemenyan. Dan sebungkus rokok sesajian.
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”

Brodin membaca salah satu nisan di depannya. Matanya kembali berkaca-kaca. Dengan langkah goyah, Brodin coba melangkah. Duduk di depan nisan itu dengan penuh haru. Termangu. Brodin mengeja setiap kata demi kata. Dengan suara terbata-bata.
”Nani…..”
”Na…..”
”Ni…..”
”N…..”
”A…..”
”N…..”
”I…..”
”Oh….. Nani. Maafkan kesalahan Bapak jika sampai sekarang belum bisa membahagiakan anak Bapak yang tersayang. Maafkan Bapak, Nak.”

Membaca tulisan di batu nisan itu, Brodin menangis tersedu teringat Nani, anaknya. Anak semata wayang Brodin yang masih berumur 3 tahun dan terpaksa harus ditinggalkannya merantau ke Jakarta untuk sebuah cita-cita mulia. Brodin mendekap batu nisan itu seperti halnya Brodin mendekap anaknya sendiri.

Seandainya saja sekarang ini Nani berada di pangkuannya, pasti Brodin akan memeluk anak semata wayang lucu itu dengan penuh kasih sayang. Brodin akan menimang-nimang Nani dengan alunan tembang. Brodin teringat ketika pertama kali melangkahkan kaki dari rumahnya untuk pergi ke Jakarta, Nani menatap Brodin dengan sorotan mata iba seolah-olah Nani tidak rela melihat kepergian Bapaknya. Tapi Brodin terus memaksa melangkah dengan hati goyah. Dan terahir kali, Brodin masih sempat melihat dari kejauhan, bibir mungil anak kecil itu berteriak dengan suara serak, ”Baaappp….. pak…..”Brodin kembali membaca batu nisan itu. Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Apa yang sedang dialaminya.
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”

Mata Brodin menerawang sambil menghitung jari-jemarinya. Brodin menghitung hari kelahiran dan kematian Nani seperti yang tertulis pada batu nisan di depannya. Walau nama anak yang tertulis di batu nisan itu namanya sama dengan Nani, anaknya. Tapi Brodin cukup bersukur karena sampai sekarang anaknya masih hidup dan sudah berumur 3 tahun lebih. Sedangkan Nani yang tertulis di batu nisan itu hanya berumur 3 hari.

Sejak bertemu dengan Nani, Brodin merasa banyak hikmah dan pengalaman yang ia petik. Hingga ahirnya, Brodin memutuskan untuk tinggal bersama Nani. Di sebuah tempat. Berkumpulnya sanak kerabat. Mencurahkan air mata. Menaburkan wangi bunga. Melantunkan ayat-ayat dan doa.
Di sini, Brodin mulai menjalani perkerjaan barunya.
Sebagai penjaga makam.
Di kuburan…..
Di kuburan…..?
Di kuburan…..!
Di kuburan…..?!
Di kuburan, yang luasnya menghampar tiga hektar, Brodin melewati hari-harinya dengan suka cita. Tanpa ada perasaan putus asa. Penduduk di kuburan sini semua sangat ramah. Seramah orang-orang yang tinggal di kota kelahirnnya, Madura. Sebuah kota kecil yang dikenal Bangsa ini dengan mayoritas penduduk hanya berprofesi sebagai penjual sate ayam dan tukang cukur rambut. Tapi Brodin percaya, suatu saat ia akan pulang ke Madura dan seluruh penduduk akan berkoar-koar dan menyambutnya bak pendekar. Bisa jadi, Brodin akan berdiri di atas mimbar bercerita tentang pengalamannya berjuang keras menaklukkan Jakarta hingga ahirnya ia bisa keluar dan menjadikannya seorang avatar.
”Hidup Brodin……”
”Hidup Brodin Sang Pendekar…..”
”Hidup Brodin Sang Avatar…..”
”Hidup Presiden baru kita….. Brodin Al Amru…..”
Brodin terbangun dari lamunan, ketika seekor lalat hinggap di mulutnya. Seekor lalat itu sepertinya juga ingin merasakan kenikmatan sebungkus nasi yang Brodin makan. Sebungkus nasi dengan lauk pauk tahu dan telor dadar itu Brodin dapatkan ketika tadi siang ia membantu menggali kuburan karena ada orang yang meninggal. Selain mendapatkan nasi, Brodin juga diberi upah uang sebesar lima puluh ribu. Lumayan, bisa ditabung untuk kebutuhan keluarga jika Brodin pulang ke Madura. Brodin menyimpan uang itu di dalam gundukan makam. Di bawah batu nisan bertuliskan.
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”
****Dua tahun selang, tanpa diduga Brodin menjadi orang paling terkenal di antara semua penduduk yang tinggal di sekitar kuburan. Jika ada orang yang bertanya penjaga makam, pasti jawaban orang itu tidak lain adalah Brodin. Hanya Brodin. Mungkin sudah sepantasnya jika Brodin menyandang gelar itu. Bukan lantaran jasanya selama dua tahun mengabdi di pemakaman itu dengan setia. Tapi Brodin mengenal semua nama-nama mayat di pemakaman itu di luar kepala. Begitu juga dengan denah dan peta lokasinya.

Dan hari ini, entah kenapa Brodin sangat sedih. Brodin merasa salah dan berdosa kepada sebagian mayat yang sekarang ini sedang tidur pulas di sekelilingnya. Ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di pemakaman, Brodin selalu berdoa agar ada orang yang mati setiap hari. Dengan begitu, Brodin akan mendapatkan sebungkus nasi. Untuk menyambung hidupnya. Untuk mewujudkan cita-cita mulia agar bisa merubah nasib ekonomi keluarganya.
Tiba-tiba Brodin menangis. Entah sudah berapa kali selama dua tahun ini ia menangis. Mungkin terlalu sering bagi Brodin mengeluarkan air mata. Air mata yang hanya bisa keluar dari orang-orang yang sudah biasa hidup terluka. Oleh orang-orang tegar dan selalu ditindas batinnya.
Brodin duduk termenung di atas batu nisan. Sesekali matanya menerawang tajam mengamati pergerakan matahari dan awan yang bergeser perlahan-lahan memperlihatkan perpindahan waktu dari sore ke malam. Di hari terahir selama menjalani puasa ramadan, pasti hari ini adalah hari yang paling menyiksa hati dan pikiran Brodin. Ketika sebentar lagi gema takbir dikumandangkan, Brodin hanya bisa merayakannya sendiri. Brodin tidak bisa merayakan kemenangan dan berkumpul bersama istri dan anak semata wayangnya, Nani.
Nani…..
Nani…..?
Nani…..!
Nani…..?!Ya, Nani. Dengan perasaan bimbang, Brodin mengambil uang yang ia simpan di bawah gundukan makam. Di bawah batu nisan bertuliskan
”Almarhum Nani Binti Mani.”
”Lahir : Jumat Wage. 17 Agustus 1945.”
”Wafat : Minggu Legi. 19 Agustus 1945.”

Brodin mencium batu nisan Nani untuk yang terahir kali. Brodin melangkahkan kaki dari pemakaman yang luasnya menghampar tiga hektar itu perlahan-lahan, sama halnya seperti ketika pertama kali Brodin melangkahkan kaki dari rumahnya untuk pergi ke Jakarta, Nani menatap Brodin dengan sorotan mata iba seolah-olah Nani tidak rela melihat kepergian Bapaknya. Tapi Brodin terus memaksa melangkah dengan hati goyah.

Sesampainya di depan pintu, Brodin berdiri dengan perasaan penuh haru. Termangu. Brodin menatap sebuah papan raksasa  yang Brodin beli seharga 20 juta dari hasil menabung ketika Brodin menjadi seorang penjaga makam selama dua tahun. Papan raksasa itu bukan bergambarkan peta kota Jakarta yang sudah lapuk di makan usia dan siap menimpanya kapan saja. Tapi papan raksasa itu bertuliskan daftar nama semua mayat yang berada di pemakaman yang luasnya menghampar tiga hektar. Begitu juga lengkap dengan peta dan denah lokasinya.
Brodin tidak lagi berdoa agar ada orang yang mati setiap hari, untuk mendapatkan sebungkus nasi. Tapi Brodin berharap suatu saat, dengan papan raksasa bertuliskan daftar nama semua mayat yang berada di pemakaman yang luasnya menghampar tiga hektar, begitu juga lengkap dengan peta dan denah lokasinya itu, semua orang tidak akan susah-susah untuk mencari dan bersilaturrahmi dengan sanak keluarganya yang sudah mati. Agar semua orang selalu mengingat dan menghargai orang-orang yang sudah mati. Seperti Nani.
Brodin membuang semua kisah ketika pulang ke rumah, seluruh penduduk Madura akan berkoar-koar dan menyambut Brodin bak pendekar. Atau dongeng Brodin berdiri di atas mimbar ketika bercerita tentang pengalamannya berjuang keras menaklukkan Jakarta hingga ahirnya Brodin bisa keluar dan menjadikannya seorang avatar.

Brodin kembali pulang ke Madura tidak membawa apa-apa. Hanya gema takbiran yang terus berkumandang. Gema takbiran yang terus berkumandang mengiringi langkah Brodin di setiap perjalanan menuju pulang. Gema takbiran yang terus berkumandang di hari kemenangan.
Gema takbiran yang terus mengumandangkan…..
Allahu Akbar…..
Allahu Akbar…..
Allahu Akbar…..
La Ilaaha illallahu Allahu Akbar…..
Allahu Akbar Walillahil Hamd…..

Jakarta, Ramadan 1428 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s